|
Seandainya Saya Punya mesjid (Bagian 1) |
|
|
|
Ditulis Oleh Adhi Rachdian
|
|
Jumat, 01 Juli 2005 |
|
Jumat, 1 Juli 2005 17:15. Sebuah harapan, masa depan, cita-cita dan tujuan hidup
"Suatu saat nanti, Insya Allah saya mendirikan Mesjid, maka akan saya bangun mesjid yang dilengkapi dengan peralatan multimedia yang lengkap dengan wide screen dengan ukuran raksasa". Seperti biasa, hari Jumat ini dan juga Jumat-jumat sebelumnya, aktifitas saya adalah datang ke mesjid, sholat sunah sambil menunggu adzan dan kemudian mendengarkan khutbah Jumat sambil ter-kantuk2. Dari Jumat ke Jumat, jika distatistik maka setiap kali mendengarkan khutbah Jumat, pasti seringnya dengan kondisi ter-kantuk2. Jika saya melirik ke depan, samping atau ke belakang, kondisi ini juga dialami oleh sebagian besar sidang Jumat. Ter-kantuk2, bahkan banyak juga yg tertidur. Tak jarang terdengar suara orang mengorok... Memang sepertinya paling nikmat bobo siang pada saat Jumatan (Ah... itukan hanya sekedar opini saya?). Kata para ustadz, itu karena setan2 yang menggoda sedemikian dahsyat.
"Jumatan" hanya sekedar ritual formal yang (maaf) tidak ada esensinya. Orang datang ke mesjid pada haru Jumat, hanya sekedar datang, sila, mengantuk, sholat Jumat dan kemudian pulang tanpa dapat mencerna apalagi menerpakan apa "pesan" dan "nasihat: yang disampaikan oleh khotib. Mungkinkan kekakuan dan formalitas seperti itu dirubah dan direformasi? Dibuat suatu terobosan yang tak lazim?
Beberapa waktu yang lalu sempat terpikir dan akhirnya bertanya dalam angan-angan: "Bagaimana seandainya mesjid ini dilengkapi dengan layar yang menampilkan khotib dan isi dakwah yang disampaikan. Persis kalau orang sedang mendengarkan suatu presentasi atau menghadiri seminar. Mungkinkah akan menarik bagi semua sidang jumat?
(Bersambung...)
Jadikan sebagai favorit anda (167) | Cuplik artikel ini | Views: 5454
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |
|
Terakhir diperbaharui ( Selasa, 20 Desember 2005 )
|