www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos and videos from rachdian. Make your own badge here.
Adhi Rachdian's Facebook Profile
rachdian - View my most interesting photos on Flickriver
Dari Timika ke Kuala Kencana : Dua Wajah Kabupaten Mimika 3 ? 5 Juli 2006 Cetak E-mail
Ditulis Oleh Adriani Samihadji   
Selasa, 11 Juli 2006
Another journey, another story...
Enjoy!


Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Suasana lengang menggemakan langkah kaki saya di Bandara Sukarno Hatta. Ini adalah kali pertama saya melakukan perjalanan malam menggunakan pesawat terbang (ehm?.akan selalu ada yang pertama untuk semua hal, bukan begitu?).

Ruang tunggu F4 tampak kosong melompong. Hanya terdapat beberapa orang yang duduk menyendiri atau berkelompok, menonton Jackie Chan beraksi di TV, berbisik-bisik melalui telepon selular, atau sekedar duduk bengong entah memikirkan apa. Di satu sudut tampak beberapa orang berkebangsaan asing yang telah cukup umur, masing-masing duduk menekuni buku ditangan mereka. Seolah mereka membentuk dunia mereka sendiri, terlepas dari keadaan di sekitar mereka, asyik berkelana di belantara wawasan baru melalui buku-buku yang senantiasa mereka bawa kemanapun dan kapanpun (mungkin masih lebih asyik nonton TV, ngobrol atau bengong kali yha?daripada baca buku. Nggak heran kalo minat baca kita masih rendah :D).

Mendekati tengah malam, pendar-pendar lampu warna warni mengiringi kepergian saya meninggalkan Jakarta yang riuh rendah menuju ke Tanah Papua.

Saya tersentak bangun ketika sinar matahari menyilaukan mata saya. Jam di tangan masih menunjuk ke angka 4. Perbedaan waktu 2 jam antara Irian dan Jakarta, berarti saat ini sudah jam 6 pagi di Papua. Pagi yang sungguh cerah. Langit biru bersih menjadi kanvas sang matahari yang memancarkan sinarnya setelah semalaman menghilang digantikan bulan dan bintang. Bagaikan burung saya melayang anggun di atas hamparan awan bertumpuk bergulung-gulung, persis seperti gulali yang dijual di pinggir jalan. Layaknya kapuk yang empuk ingin rasanya menjatuhkan diri di atas gumpalan awan itu. Merasakannya melayang melewati jari jemari saya. Lembut. Halus.

Perlahan pesawat ini mulai memasuki lapisan demi lapisan awan yang menggumpal. Laksana kabut menyelubungi diri ini, membutakan pandangan ke luar, terguncang turbulen, dan ?..serentak nafas saya seolah tercabut. Sejauh mata memandang di bawah sana hanya terdapat hamparan hijau yang indah. Hamparan hijau yang menawarkan petualangan bagi saya untuk berkelana menjelajahi kedalaman hutan yang memiliki keindahan luar biasa.

Akhirnya pesawat ini mendarat dengan selamat. Mendarat di runway yang cukup besar menampung Boeing 737 dengan lapisan aspal lebar memanjang, berbagai kendaraan khas di lapangan terbang, sebuah hanggar pesawat yang tinggi menjulang. Selain itu, bandara ini tak ubahnya sebuah lapangan rumput tempat bermain anak-anak. Tak tampak adanya kemegahan, hanya bangunan sederhana beralas semen, berdinding kayu dan beratap seng.

Saya melangkahkan kaki keluar Balai Kedatangan untuk kemudian disambut jejeran kawat tinggi mengelilingi halaman. Ini adalah kali pertama ketika saya harus menunggu petugas keamanan membukakan kunci gembok yang kokoh itu sebelum dapat berjabat tangan dengan penjemput saya di lapangan parkir. Perasaan kosong menerpa hati ketika sejumlah orang berkulit hitam di balik pagar kawat memandangi saya yang sedang melihat ke kiri kanan dengan antusias. Mereka adalah penduduk setempat yang sedang menunggu pesawat untuk menerbangkan mereka ke pulau-pulau kecil di sekitar sini. Berdiri berkelompok, duduk mencangkung di batang pohon, duduk beralas tanah, menahan angin dingin yang menjalar??.Rasanya aneh ketika mereka memandangi saya. Seperti ketika saya memandang kedalam kandang seekor binatang, hanya saja saya menjadi binatangnya. Dilihat. Dikurung. Entah apa yang mereka pikirkan saat itu!

Setelah sempat beristirahat sejenak, saya melanjutkan perjalanan saya. Pusat kota Timika merupakan sebuah pasar tradisional yang memenuhi satu ruas jalan yang lebarnya pas untuk dua buah kendaraan berjalan bersamaan. Cukup banyak ojek memarkir motor mereka di sekitar pasar tersebut karena ternyata pendapatan dari menarik ojek cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan sekaligus membayar cicilan motor. Satu dua orang tampak berjalan kaki, lusuh, membawa tas anyaman Irian di kepala mereka. Becak berlalu lalang bersaing dengan ojek untuk menarik penumpang.

Rumah-rumah penduduk tersebar dalam jarak yang relatif berjauhan satu sama lain seiring kendaraan saya yang mulai meninggalkan kota. Tidak banyak orang, mobil melalui jalan aspal mulus di siang yang mendung ini. Tidak banyak pula orang yang tampak bekerja di ladang di sepanjang jalan. Sunyi. Sepi. Di sana sini tampak rangka-rangka bangunan menunggu dengan sabar untuk diselesaikan. (Aneh?..mau diselesaikan gimana yha? Nggak ada tumpukan kayu, nggak ada tumpukan semen, nggak ada tumpukan batu, bahkan nggak ada tukangnya. Kayak yang ditinggal gelebak begitu aja?).

Mendekati gerbang Kuala Kencana, seorang penjaga keamanan memeriksa dengan teliti tanda pengenal orang-orang yang akan memasuki wilayah tersebut. Jalan yang dilalui masih sama. Suasana yang hadir sangat berbeda.

Kuala Kencana adalah lokasi penambangan milik PT Freeport. Terletak di Kabupaten Mimika, Kuala Kencana berjarak sekitar 20 km dari Kota Timika. Jalan lurus tak berujung di hadapan saya diapit kerimbunan hutan Irian. Rumput hijau tumbuh rapi di sepanjang jalan. Di sana sini rambu-rambu lalu lintas memberikan petunjuk hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan di ruas jalan tersebut. Lampu-lampu berjajar siap menerangi jalan di waktu malam tanpa ditemani satupun tiang listrik atau kabel-kabel listrik yang bergelantungan tidak karuan. Luar biasa?!

Semakin mendekati pusat kawasan Kuala Kencana, semakin terasa ketertiban yang merasuk dalam diri manusianya. Setiap mendekati persimpangan jalan, kendaraan yang akan memotong jalan akan berhenti sejenak menunggu jalan di hadapannya kosong. Batas kecepatan dipatuhi. Pejalan kaki dan pengendara sepeda menggunakan jalur di tepi jalan raya yang telah disediakan dengan nyamannya (mereka masih orang Indonesia khan? Ternyata bisa juga tertib lalu lintas kalo ada kemauan. Nggak ada tuch? yang namanya lampu lalu lintas. Rambu-rambunya pun dibersihkan sehingga senantiasa jelas, gambar dan warnanya. Atau karena ada paksaan denda? Lumayan juga dendanya?bisa 400 ribu untuk pelanggaran batas kecepatan)

Pusat kawasan Kuala Kencana adalah sebuah lapangan segi empat luas dengan patung khas Irian berdiri anggun di tengahnya. Fasilitas sosial dan fasilitas umum tersedia dalam jangkauan 5 menit berjalan kaki. Mesjid, gereja, pusat perbelanjaan lengkap dengan berbagai restoran, perpustakaan, travel biro, bank dan aneka jenis jasa lain siap memberikan pelayanan. Layanan yang terbuka untuk semua pendatang di kawasan ini kecuali beberapa jasa yang membutuhkan tanda pengenal dari Freeport sebagai syarat melakukan transaksi (he..he..serasa punya KTP lagi kali yha?)

Memasuki kawasan pemukiman di Kuala Kencana, kembali rasa takjub menghampiri diri. Setiap lingkungan perumahan atau yang disebut dengan ?RT? terdiri dari sekitar 70-an rumah yang ?identik?, sangat mirip satu sama lain. Sering terjadi orang mengetuk pintu rumah yang salah atau memarkir kendaraan di depan rumah tetangga (gimana rasanya yha?.kalo keunikan rumah kita, yang bisa menjadi salah satu jati diri kita, dicabut oleh peraturan yang ada? Atau karena rumah-rumah itu hanya bersifat sementara sehingga orang menjadi malas untuk menampakkan identitas dirinya dan berkata, ?Hey?.ini rumah gue lho?..Ini gaya gue?!?).

Sore menjelang. Saya berdiri menghadap hutan nan asri. Menutup mata sejenak mendengarkan nyanyian burung yang bersahutan di ujung ranting. Merasakan angin bertiup sepoi-sepoi menina bobokkan. Membuka mata untuk kemudian menatap seekor kupu-kupu cantik berwarna biru terang. Terbang ke sana kemari tanpa takut adanya polusi, tanpa takut menabrak bangunan pencakar langit, tanpa takut jatuh ke air sungai yang kelam. Entah kapan saya bisa menikmati suasana seperti ini di Jakarta :(

Hari terakhir di Irian Jaya. Hujan mengguyur rintik-rintik, mengajak untuk kembali meringkuk di kasur yang hangat. Saya sudah siap sedia menyelesaikan pekerjaan saya. Penjemput saya pun sudah hadir. Namun ada keresahan yang membayang di wajahnya.

Mobil yang akan membawa saya ke Kuala Kencana hanya memiliki persediaan bensin untuk satu kali perjalanan saja. Jika kami berangkat, ada kemungkinan saya tidak bisa kembali ke kota, bahkan ke bandara, karena kehabisan bensin. Hari ini merupakan hari keempat kelangkaan Bahan Bakar Minyak di Timika (hal yang jarang terjadi di Freeport karena mereka memiliki SPBU sendiri!). Harga premium telah mencapai Rp. 15.000,- per liter. Beberapa waktu lalu bahkan sempat mencapai Rp. 30.000,- per liter (bandingkan dengan harga di Jakarta yang berada pada kisaran Rp. 4.500,- per liter?!!!!.).

Kota Timika dilayani oleh 3 SPBU. Di salah satu SPBU yang saya lewati, antrian telah mencapai sekitar 100 meter dari pintu SPBU dan belum satupun mobil tanki yang datang. Mobil-mobil itu telah menginap sejak malam sebelumnya demi mengharapkan seliter dua liter bensin. Dan sebagian besar kendaraan itu adalah mobil angkutan umum (Betapa beruntungnya saya!. Begitu banyak SPBU tersedia di Jakarta dan jarang terjadi antrian panjang saat saya mengisi bensin. Terkadang saya sudah ngomel kalo ada 4-5 mobil di depan saya. Bandingkan dengan Timika. Berarti ada sekitar 30-an mobil di depan saya, dan saya belum tentu akan memperoleh bensin saat itu. Syukur Alhamdulillah?.. ).

Akhirnya usailah sudah. Masalah kendaraan dan pekerjaan saya. Tengah hari, saya sudah kembali menginjakkan kaki di bandara. Sejenak saya memejamkan mata ini dan tiba-tiba saya seolah berada di suatu negara di luar Indonesia. Tanpa melihat keadaan di sekitar saya, telinga saya dipenuhi oleh suara-suara anak kecil, perempuan, laki-laki berbahasa Inggris. Aksen Amerika, aksen Jawa, aksen Bali....semua seolah berlomba menyatakan diri sebagai bagian dari masyarakat internasional. Dan ketika saya membuka mata, fakta yang ada mengiris hati. Ruang tunggu bandara berupa sebuah teras lebar dengan atap seng yang dikelilingi oleh dinding kawat bergembok. Di atas lantai semen berderet-deret kursi kayu panjang bersandaran punggung. Udara sejuk bukan karena alat pendingin udara namun karena di kejauhan saya melihat kabut tipis yang menggantung dan rintik hujan yang enggan berhenti. Sungguh sangat kontras!

Masih menyimpan gundah di hati, pesawat yang saya tumpangi mengangkasa di langit Irian.

Tata kota yang terencana dengan apik dan bangunan kosong menanti untuk dibangun. Kenyamanan kegiatan operasional dan kelangkaan fasilitas. Kepatuhan pada peraturan dan keengganan mengikuti peraturan. Kontradiksi di Kabupaten Mimika. Layaknya dua wajah dari sebuah mata uang. Wajah modern yang mengikuti perkembangan terkini dunia di luar sana. Wajah tradisional yang terseok-seok berusaha untuk bertahan di tengah gempuran perubahan yang terjadi. Itu semua terjadi dalam jarak 30 menit saja. Antara Timika dan Kuala Kencana.
Jadikan sebagai favorit anda (89) | Cuplik artikel ini | Views: 3744

Yang Pertama Memberi Komentar

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow


AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

About Me...

Blog ini resmi diluncurkan kembali pada tanggal 9 Januari 2008. Mohon maaf jika banyak kekurangan. Website lama masih dapat diakses disini. Tahun Baru, Website Baru, Semangat Baru...
Semoga bermanfaat!

@dH1
NB: Mohon kritikan dan sarannya, terima kasih.

 

Pusing Cari Hosting yang Pro? Klik baner dibawah ini...

Click here to PInterHosting
Indonesia To Blog -Top Site