Binary Code atau yang lebih dikenal dengan bahasa komputer hanyalah berupa 0 dan 1. yang pada awalnya komputer hanya digunakan untuk mengetik, tetapi dengan kecanggihan teknologi dari bahasa
binary itulah dapat terbentuk suatu bentuk visual
( Visual Imagery ). Dalam 10 tahun belakangan ini teknologi komputer dan informasi berkembang dengan pesat, telah menyebabkan masyarakat modern untuk berinteraksi dengan dunia maya atau yang sering disebut
Cyberspace seperti
website,
virtual reality,
on-line games ( Sony Playstation sedang mengembangkan teknologi ini ) , dan mungkin yang akan menjadi fenomena di masa yang akan mendatang adalah
Interactive TV ( Sekarang lagi dikembangkan oleh Stasiun Televisi BBC di Inggris ). Fenomena ini adalah proses dari modernisasi yang terjadi di masyarakat seperti yang dikatakan oleh seorang ahli komunikasi bernama Everett Rogers mendefinisikan modernisasi sebagai proses perubahan dari cara hidup traditional menuju gaya hidup yang lebih kompleks dan maju secara teknologi.
Tetapi dalam perkembangannya, citra yang ditimbulkan dari dari bit-bit data komputer (
Cyberspace ) ini telah menjadi sebuah menjadi sebuah
Visual Pleasure yang dapat memuaskan imajinasi fantasi manusia, termasuk juga diantararanya adalah menjadi mesin yang dapat memuaskan hasrat seks manusia atau
Human Pleasure Sexual Machine. Aktifitas seksual adalah kebutuhan biologis dari manusia normal, yang mungkin hampir setiap orang dapat mengatakan bahwa kegiatan seksual adalah hal yang paling nikmat untuk dilakukan, terlebih untuk menyatakan betapa besar cinta mereka kepada pasangannya. Tetapi ada juga mereka melakukan kegiatan seksual hanya untuk sekadar memuaskan nafsu dari libido.
Dunia Cyberspace saat ini telah dapat memberikan kepuasan seksual itu,
Cyberspace yang bersifat artifisial dapat ditemukan representasi digital mengenai berjuta tindak dan adegan seksual ( berupa video, gambar, film dan foto) dan juga didalamnya dapat ditemukan beratus-ratus atau berjuta-juta gambar yang menampilkan aktifitas seksual atau juga kita dapat mengakses secara
real – time kita mendapatkan liveshow dari adegan seksual dan bahkan kita bisa berinteraksi dengan cara
on-line chat dengan mereka. Disinilah dengan keberadaan
Cyberspace yang mampu menampilkan
Cybersex tentunya akan menimbulkan berbagai persoalan mengenai sifat seks dan seksualitas itu sendiri. Sebuah kotak komputer telah dapat menggantikan organ-organ seksual manusia, padahal kita ketahui bahwa dunia
Cybersex hanyalah dunia maya, dunia yang hanya tampil didalam layar kaca, yang dimana kita tidak dapat merasakan, menyentuh, mencium, meraba, objek seksual tersebut, kita hanya bisa melihat dan berfantasi. Jadi apakah sebenarnya yang terjadi ? apakah ketika manusia menyelami dunia cybersex melalui jaringan internet telah dapat membawa manusia untuk mengalami rangsangan seksual dan kepuasan puncak seksual ? apakah sekotak komputer telah dapat menyamai organ-organ tubuh manusia ? apakah ini sebagai sebuah tanda matinya realitas dan diganti dengan sesuatu yang maya ? ini adalah sebuah fenomena di dunia postmodernisme.
Cyberspace memang masih bisa tergolong sebagai teknologi baru, karena internet sendiri baru ditemukan sekitar awal tahun 1990-an. Semenjak itu teknologi internet terus berkembang, dari hanya sekedar bisa menampilkan text hingga bisa menampilkan
real-time video streaming. Dengan hadirnya teknologi baru selalu merubah struktur dari ketertarikan kita tentang apa yang kita pikirkan. Dan juga bisa merubah tentang penafsiran kita tentang suatu simbol dan petanda. Teknologi internet dapat dikategorikan sebagai revolusi ke tiga dalam dunia teknologi komunikasi, setalah ditemukanya
Roman Alphabet ( A – Z ), dan
printing press ( Percetakan ).
Cyberspace telah mengubah budaya konsumerisme, karena sifat cyberspace yang lebih interaktif, maka konsumen dapat memilih sendiri informasi yang ingin dia dapatkan, dan juga cyberspace dapat dinavigasikan sendiri oleh para penggunanya dan ini tidak terdapat pada traditional media seperti koran atau televisi.
Dalam kaitannya dengan dunia citra dan halusinasi cyberspace ini, teori psikoanalisis yang dikembangkan oleh Freud dan kemudian oleh Jacques Lacan, ternyata banyak menguraikan keberkaitan yang erat antara dunia kesenangan seksual dengan dunia citra, fantasim dan hakusinasi, khususnya yang dibangaun di dalam cyberspace. Berbagai kesenangan ( pleasure ) yang dihasilkan oleh sebuah Objek seksual ( Sexual Object ), berdasarkan teori psikoanalisis Freud dan Lacan, tidak dapat dilepaskan dari citra yang menyertai objek seksual tersebut. Bahkan Lacan lebih tegas lagi mengemukakan, bahwa kepuasan seksual dari sebuah objek seksual tidak dapat dipisahkan dari image yang dikembangkan oleh seseorang ketikan berhadapan dengan realitas anatomi sebatang tubuh ( misalnya tubuh perempuan ), dan image tersebut kemudia dijadikan sebagai sebuah penanda ( signifier ), yang menghasilkan makna atau petanda ( signified ) tertentu. Sebagaimana yang dijelaskan Lacan, dalam menguraikan mengenai hubungan heteroseksual pada diri seorang laki-laki,
“Meskipun citra tubuh perempuan merupakan faktor penting dalam menghasilkan hasrat seksual laki-laki, akan tetapi ini tidak mencukupi. Agar hasrat seksual tersebut dihasilkan, maka citra tersebut harus dipasangkan ( secara eksplisit atau implisit ) dengan petanda ( signified ) yang tepat.
Saya sebagai laki-laki normal memang sangat setuju dengan pendapat Lacan ini, karena untuk mendapatkan sebuah ransangan seksual memang tidak hanya cukup melihat perempuan saja, tetapi harus ada sebuah petanda yang mempunya makna seksual dalam tubuh perempuan itu. Tetapi jika kita mengambil sudut dari sudut pandang perempuan mungkin saja berbeda, seorang perempuan memang, mempunyai pikiran yang lebih berdasarkan perasaan daripada logika dan laki-laki mempunyai pikiran seksual yang lebih sering ketimbang wanita. Seorang Perempuan mungkin tidak akan menemukan kesenangan seksual ketika dia menyelami dunia cybersex, dan mungkin akan lebih senang mendapatkan ransangan seksual ketika bertemu organ seksual yang asli, tetapi mungkin saja masih ada perempuan yang senang dengan cybersex.
Sebuah Kotak komputer dengan dapat menampilkan image objek seksual ( gambar, foto, film, suara, dan interaktifitas objek seks ) telah menjadikan kotak komputer sebagi
human pleasure sexual machine atau mesin yang dapat memuaskan hasrat seks manusia. Komputer telah dapat menggantikan organ seksual untuk membawa manusia mendapatkan kepuasan seksual, dan ini menjadi sebuah petanda bahwa realitas di dunia posmodernisme ini telah mati, telah tergantikan sesuatu yang tidak nyata, atau dapat disebut posrealitas ( Yasraf: 2004 ).
Posrealitas dapat dijelaskan sebagai sebuah kondisi matinya realitas, dalam pengertian diambil alihnya posisi realitas itu oleh apa yang sebelumnya disebut sebagai nonrealitas (Non-reality). Lewat kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menciptakan realitas artifisial, dunia posrealitas menawarkan berbagai pengalaman, penjelajahan, dan panorama-panorama baru yang mempesona, yang belum pernah dialamu sebelumnya. Akan tetapi, dunia realitas alamiah, seperti kedekatan manusia dengan aura, keaslian, dan eksotisme alam, warisan-warisan luhur kebudayaan serta kekuatan-kekuatan spiritual yang selam ini magnit dunia kehidupan. Maka, ketika realitas-realitas alamiah tersebut telah lenyap, dan diambil alih oleh berbagai realitas yang artifisial, manusia lalu terkurung di dalam perangkap dunia artifisialitas ( dalam kasus ini adalah cybersex ), yaitu dunia yang serba permukaan, imanen, dan dangkal, serta tak mampu lagi menemukan jalan kembali ke arah realitas alamiah, kekayaan kultural, dan kedalaman pengalaman transedental.
Live-chat sexSalah satu bentuk cybersex adalah dimana pengguna internet bisa mengadakan
live-chat sex , jadi disana para pengguna internet bisa berbincang-bincang dengan para pengguna internet lainya tentang sex atau seperti contoh di sebuah situs
www.asiacarrera.com ( Asia Carrera adalah , bintang filem panas, yang sangat terkenal di Hollywood ) , di dalam situs itu pengguna internet bisa melakukan obrolan sex dengan Asia Carrera, dan di dalam situs itu juga terdapat gambar-gambar telanjang dan rekaman videonya atau
Voyeurism. Voyeurism adalah kegiatan melihat tubuh atau citra tubuh
( image ) – terutama tubuh dan citra tubuh perempuan- yang mengarah pada dicapainya apa yang disebut Mulvey kesenangan visual
( Visual Pleasure ). Disinilah dalam situs ini contoh para pengguna Cybersex dimanja dan dibuai dengan
Visual Pleasure. Dimana para pengguna itu seolah-olah bisa berbicara dengan melihat tubuh telanjang dia, padahal belum tentu para pengguna berbicara
( chat ) dengan Asia Carrera sesungguhnya. Tapi disinilah fantasy para pengguna di stimulasikan, dan dirangsang oleh sesuatu yang sebenernya mungkin tidak ada, saraf-saraf seksual para pengguna dirangsang oleh sebuah kotak bernama komputer, kegiatan ini bisa saja dinamakan
cybermasturbation. Karena sebenernya ketika kita melakukan live-chat sex itu, kita memasukan data data
binary code 0 dan 1, ke dalam jaringan internet dan diterima oleh server, kemudian oleh server dibalikan lagi ke dalam komputer itu masih dalam
binary code juga, tetapi outputnya sudah menjadi lain, ketika ditangkap oleh otak para pengguna cybersex, output itu sudah menjadi sebuah rangsangan sexsual untuk mencapai sebuah kepuasan seksual
( ecstassy ). Citra digital ini menjadi sebuah kekuatan, oleh karena sifatnya yang sangat mudah dimanipulasi dan disimulasi, sehingga ia dapat menghasilkan efek-efek khusus tubuh, wajah, organ, suara, gerakan, yang dapat disempurnakan penampakannya, ditingkatkan kemampuannya, dan dimaksikmalkan ketahannanya.
Adult Sex GameKarena Web site
( Cyberspace ) adalah suatu medium baru dalam menyampaikan informasi secara jelas dan attraktif dengan menggunakan teknologi Internet. Dengan kemampuan website yang dapat menyuguhkan informasi dengan menggunakan Illustrasi, Photography, tulisan, animasi dan musik, memungkinkan para pembaca akan lebih mempunyai daya visual yang lebih relevan pesan yang ingin disampaikan. Cyberspace mempunyai karakteristik yang berbeda dengan traditional media atau televisi, traditional media mempunyai sifat linear , sedangkan cyberspace lebih bersifat non-linear. Dimana para penggunanya dapat mengontrol dengan penuh navigasinya. Karena sifatnya yang non-linear itulah cybersex juda dapat menghadirkan sebuah interaktifitas, atau yang disebut
interactive-voyeurism ( Yasraf : 2004 )
. Yaitu melihat gambar interaktif di dalam cyberspace, sambil melakukan interaksi ( atau Intercourse ) dengan gambar yang bersifat virtual tersebut.
Didalam game seperti yang ada digambar atas, dimana seseorang dapat seolah-olah dapat melakukan hubungan seks dengan wanita yang ada di layar monitor,. Dan dapat melakukan hubungan
Virtual intercourse dengan menggunakan
Virtual penis , mereka dapat melakukan hubungan seksual dengan cara yang mungkin tidak terdapat di dunia nyata, mereka dapat mengembangkan semua daya khayal dan imajinasi mereka
. Disinilah para pengguna game ini seperti layaknya bercinta dengan mesin komputer, tetapi yang dibayangkan oleh mereka adalah bercinta dengan perempuan sesungguhnya, jadi kita mendapatkan contoh dari matinya realitas, matinya benda nyata dan digantikan oleh benda-benda artifisial. Layar monitor telah berhasil menggantikan tubuh wanita. Hal ini juga telah menyebabkan
fetishim yaitu – menjadikan benda sebagai substitusi tubuh yang dapat menimbulkan rangsangan seksual. game seksual ini telah mensubtitusi tubuh wanita bagi para pria untuk mendapatkan kepuasan seksual. jika kita kemabli melihat teori psikoanalisis yang dikembangkan oleh freud yang mengatakan bahwa kepuasan seksual dari sebuah objek seksual tidak dapat dipisahkan dari image yang dikembangkan oleh seseorang ketikan berhadapan dengan realitas anatomi sebatang tubuh ( misalnya tubuh perempuan ), dan image tersebut kemudia dijadikan sebagai sebuah penanda ( signifier ), yang menghasilkan makna atau petanda ( signified ) tertentu. Disini tubuh wanita yang dihasilkan dari
Binary code, telah menjadi sebuah fantasi, halusinasi dan imajinasi dan sebuah
Visual pleasure yang luar biasa bagi para pria.
Virtual sex realityVirtual reality adalah semacam tiruan dunia nyata kedalam dunia komputer 3 dimensi. biasanya seseorang akan memakai kacamata seperti kacamata penyelam dan kemudian dia akan memasuki dunia maya yang
image nya adalah hasil dari rekayasa komputer. Jadi seolah-olah orang itu memasuki sebuah dunia baru. Virtual reality banyak digunakan untuk para pilot baru yang belum diperolehkan menerbangkan pesawat , jadi mereka belajar dulu dengan simulasinya, atau para calon dokter yang ingin belajar cara membedah pasien.
Virtual sex reality dapat memungkinkan seseorang untuk bercinta dengan bentuk wanita yang tampil utuh 3 dimensi, pengguna virtual sex ini dapat memprogram sendiri mulai dari bentuk, wajah, gesture, jenis ras pasangan seks yang diingikan. Virtual sex ini benar-benar dapat memuaskan imajinasi dan fantasi para penggunanya. Dan akhir-akhir ini berbagai riset mengenai ini tengah dikembangkan, khususnya riset dalam menyimulasi berbagai fungsi otak, fungsi syaraf yang berkaitan dengan sentuhan, rabaan, penciuman, memang sedang dilakukan. Jadi mungkin tidak mungkin di masa mendatang ketika teknologi
virtual sex realitity mesin terus berkembang maka kenikmatan seksual yang sesungguhnya yang didapatkan dengan manusia asli akan dikalahkan dengan mesin ini. Inilah matinya sebuah realitas dunia nyata.
Pada akhirnya realitas mungkin akan lenyap diatas muka bumi, manusia mungkin akan kebih senang bercinta denga mesin komputer ketimbang bercinta di dunia nyata. Karena mesin komputer dapat lebih menghadirkan sebuah imajinasi dan fantasi yang lebih hebat dan tidak ditemuka di dunia nyata , manusia akan lebih senang dengan virtual lips, virtual clitoris, virtual penis, cyberdildo, virtual sex machine dan juga virtual orgasm seperti kaka Rheingold… kita tidak punya waktu lagi untuk menangani pertanyaan moralitas, privacy, identitas pribadi, dan bahkan prospek perubahan mendasar pada sifat manusia. Ketika revolusi realitas virtual benar-benar berlangsung, kita tampaknya terlalu sibuk untuk menghadapi apa yang dihadapkan pada kita untuk dianalisis dan diperdebatkan konsekuensinya
Inilah sebuah fenomena di dunia posmodernisme. Seksualitas telah mati !
Daftar Pustaka
R.Kitchin.
Cyberspace – The world in the wires. John Wiley. Chichester. 1998
Peter Ludlow (Ed)
High noon on the Electonic Frontier – Conceptual Issues in Cyberspace. MIT Press. Cambridge, mass. 1996.
Yasraf Amir Piliang. Posrealitas : Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Jalasutra. Jogjakarta . 2004