Pada hari Minggu tanggal 12 Nopember 2006, kami tiba di Bandara
Internasional Juanda Surabaya lebih kurang pukul 13.15 dan langsung
checkin ke counter Air Asia dan memasukkan 2 barang untuk dijadikan
bagasi pesawat. Beberapa anggota keluarga lainnya (15an orang
anggota keluarga) juga melakukan checkin di counter
penerbangannya masing-masing (Lion dan Citilink). Ternyata semua
penerbangan mengalami keterlambatan pemberangkatan kecuali Citilink
yang boleh diacungkan jempol karena tetap sesuai dengan jadwal
penerbangannya.
Tidak terbiasa diam tanpa melakukan aktifitas saya membuka notebook dan
memindahkan foto-foto selama di Surabaya menggunakan "Card Reader",
membaca-baca email, menulis pengeluaran dan mengedit beberapa foto.
Tanpa terasa, kemudian kami diharuskan naik ke pesawat. Pesawat Air
Asia dengan nomer penerbangan QZ7211 jurusan Jakarta dari Surabaya yang
seharusnya berangkat pukul 14:45 di delay selama 1 jam dan akan
diberangkatkan pada pukul 15:30. Seluruh penumpang akhirnya merasa
gembira karena pada waktu yang dijanjikan dipersilahkan naik ke
pesawat. Saya dan istri masuk paling terakhir... Dengan menggunakan bis
yang disediakan, para penumpang diantarkan ke pesawat yang diparkir di
area internasional dan berebutan lah para penumpang untuk naik dengan
harapan dapat menempati tempat duduk yang menurut mereka
strategis (kebanyakan memilih tempat dijajaran depan).
Beberapa menit berselang, ada pemberitahuan yang dilakukan oleh pilot
pesawat tersebut bahwa pesawat mengalami "sedikit masalah". Tetapi
menurut saya tentu saja tidak demikian. Untuk pesawat terbang, sedikit
masalah bisa menjadi masalah yang fatal. Kalau kita bandingkan dengan
kendaraan darat, ada masalah sedikit dengan kendaraan yang kita naiki
jika kemudian terdapat masalah, solusinya ya tinggal mengentikan
kendaraan tersebut kapan saja dan memeriksa masalah tersebut. Nah kalau
pesawat? Mau minggir kemana lagi? :)
Siap-siap turun kembali!
Setelah menggunakan sabuk pengaman dan menunggu selama 40 menit,
akhirnya kembali kami diberitahukan bahwa para penumpang diharuskan
turun dari pesawat dan menunggu di ruang tunggu. Karena posisi pesawat
yang dekat dengan ruang tunggu intenasional - Gate 11, kami
dipersilahkan menunggu di ruang tunggu untuk keberangkatan ke Luar
Negeri.
Lucunya, para penumpang tidak boleh keluar dari ruang tunggu walaupun
ingin ke kamar kecil sekalipun. Padahal tidak ada kamar kecil di ruang
tunggu. Beberapa saat kemudian petugas (imigrasi) memperbolehkan
penumpang melewati daerah "kekuasannya". "Ruang Istirahat (baca: Rest
Room)... hehehe... alias kamar kecil (jangan dibaca: Small Room)" di
area untuk pemberangakatan penerbangan Internasional ternyata
tidak jauh berbeda dengan di area penerbangan domestik, dengan kondisi
lampu yang gelap di toiletnya, tidak ada tisu, sabun yang sudah habis
dan jorok.
Agak lama kemudian kami ditawarkan minuman teh & kopi hangat. Saya
menunggu istri kembali dari kamar kecil sambil menjaga barang-barang
yang kami bawa. Sekembalinya istri dan kemudian saya ingin mengambil 2
cangkir teh, minuman tersebut sudah ludes... terlihat bekas tumpahan
teh dan kopi berceceran di lantai sehingga terlihat kotor...
padahal ruang tunggu tersebut dipenuhi oleh orang-orang berbagai
bangsa... Akhirnya niat ini saya urungkan (lagian emang teh &
kopinya juga sudah abis tandassss....). Kami meminum perbekalan yang
untungnya kami bawa sebelumnya. Seperti biasa karena tidak terbiasa
diam, saya melakukan aktifitas... Kali ini saya ingin mencoba hunting
foto disekitar ruang tunggu internasional. Saya lihat banyak objek
menarik yang dapat diabadikan.
Pesawat Air Asia sedang diperbaiki
Mulai dari pesawat Air Asia didepan kami yang sedang diperbaiki dan
juga gedung bandara disekitar ruang tunggu gerbang 11. Saya berjalan
agak jauh dan akhirnya melihat sendiri bahwa pesawat Air Asia yang akan
kami tumpangi sedang di bongkar mesin jet sisi sebelah kanannya.
Sebagai orang awam tentu saja hal ini secara psikologis membuat saya
merasa tidak tenang. Maghrib menjelang, jam tujuh terlewati, belum ada
tanda-tanda pesawat akan berangkat. Menurut saya tidaklah bijak
membongkar pesawat didepan penumpang yang akan naik pesawat tersebut...
Air Asia membuktikan ketidak pastiannya jika ditanya kapan pesawat akan
berangkat. Saat itu saya berpikir, mungkin satu2nya kepastian
menggunakan Air Asia adalah ketidak pastian itu sendiri... Akhirnya
saya memutuskan untuk me-refund tiket QZ7211 tersebut (saya lihat
beberapa penumpang juga melakukab hal ini). Saya kemudian bergegas
menuju counter tiket Air Asia dengan ditemani oleh seorang petugas Air
Asia yang berdedikasi tinggi dan berbaik hati mengantarkan saya karena
kami tidak diperbolehkan melalui pintu masuk oleh petugas Imigrasi
sehingga kami harus memutar melaui jalan yang tadi digunakan oleh bis
untuk mengantarkan penumpang. Sesampainya di counter Air Asia dan
melakukan proses refund saya kembali ke tempat istri saya yaitu di
ruang tunggu Gate 11 yang dengan terpaksa harus melewati petugas
imgrasi sehingga perdebatan cukup sengit terjadi. Tidak habis pikir,
bandara yang masih darurat kok ya petugasnya sangat kaku. Kebiasaan
kita ya... pihak penumpang atau konsumen selalu dipihak yang lemah.
Masalah kewajiban konsumen sangatlah intoleran akan tetapi kalau kita
menuntut hak pelanggan maka...
Tidak terhitung berapa kali pengumuman yang terdengar mengucapkan kata
"maaf pesawat 'anu' di delay... bla...bla..." selama saya berada di
bandara. Setelah menjemput istri saya kemudian saya kembali ke untuk
melakukan boarding Adam Air yang sebelumnya mampir dulu ke counter Air
Asia untuk menanyakan apakah bagasi kami bisa diambil? Ternyata
petugasnya tidak mem-followupnya. Terus terang sayapun setelah
melakukan refund, tidak langsung ke tempat bagian check-in untuk
mengambil kembali bagasi saya kembali. Akhirnya saya harus mem"push" petugas
Air Asia untuk menurunkan bagasi kami. Dengan menggunakan HT, petugas
dibagian yang mengatur bagasi memberitahukan bahwa mereka sedikit
kesulitan untuk mengenali barang kami karena hari juga sudah malam
(demikian penjelasan mereka) dan terdengar burung hantu.. suaranya
merdu.... (ups.. iniseh syair lagu ya...). Alasan yang aneh (sesuai
dengan maskapai yang aneh), apa memang gak punya lampu?
Setelah 1 jam baru barang kami bisa kembali. Sambil menunggu saya juga
mendengar ada sekitar lebih dari 5 orang yang ingin komplain,
diantaranya beberapa penumpang yang baru datang dari Jakarta dan pada
saat mengambil bagasi, barangnya tidak sesuai. Mereka kemudian komplain
yang kemudian ditanggapi oleh pihak Air Asia
untuk bersabar karena setelah ditelusuri bahwa barang-barang mereka
kembali terbawa pesawat Air Asia yang ke Jakarta, sehingga mereka harus
menunggu pesawat tersebut kembali lagi ke Surabaya. Ber-kali2 saya dan
beberapa orang penumpang ingin bertemu dengan manajer atau paling tidak
orang yang bertanggung jawab atas operasional Air Asia di Surabaya, dan
jawaban mereka sangat ber-belit2 dan terkesan menghindar bukan mencari
solusi. Salah seorang petugas Air Asia mengatakan bahwa "tidak ada
manajer" disini, yang ada hanya TL (baca: Team Leader). Pantesan aja...
:)
Perjalanan pulang dari Surabaya menuju Jakarta dengan menggunakan Air
Asia merupakan pengalaman buruk yang mudah-mudahan tidak dialami oleh
pembaca. Kata siapa Air Asia murah?
ternyata waktu jauh lebih berharga,
nilai refund dan tenaga yang dikeluarkan untuk mengurusi tetek bengek
dsbnya tidaklah sebanding dengan harga tiket yang ditawarkan. Belum
lagi kalau kita hitung biaya ekstra yang harus dikeluarkan untuk
mendapatkan tiket dadakan yang harganya ditentukan oleh sindikat calo
di Bandara Juanda, biaya dinner, minuman dan tetek bengek lainnya. Pada akhirnya total biaya yang dikeluarkan menjadi
paling mahal dibandingkan dengan maskapai penerbangan domestik manapun.
Walaupun
demikian, kami cukup beruntung karena pada saat berangkat dari Jakarta,
Air Asia
sangatlah tepat waktu.
Bagaimana tidak, setelah lebih dari 8 jam di Airport akhirnya kami
pulang menggunakan Adam Air (yang juga delay sekitar 1.5 jam).
Beruntung bagi saya yang bisa melewatkan waktu dengan sedikit
menyalurkan hobi (baca: fotografi & komputer), tapi bagaimana
dengan istri saya
yang kebetulan berprofesi sebagai dokter yang harus standby di Rumah
Sakit pada keesokan paginya? Malam itupun rasa pusing sudah
menghinggapinya.
Bagaimana juga degan penumpang lainnya? Bagaimana dengan seorang ibu
(penumpang yang berumur sekitar diatas 50 th-an yang sempat berbincang
dengan kami) yang bepergian
sendiri? Bagaimana dengan penumpang yang membawa anak kecil dan bayi
yang sudah terlihat merengek? Bagaimana
dengan kendaraan ibu tersebut sesampainya di Jakarta ditengah malam
seperti itu? Beruntung lagi, kami ada yang menjemput. Keterlambatan
yang signifikan akan menimbulkan efek domino bagi penumpangnya.
Sebetulnya kekacauan di Bandara Internasional Juanda Surabaya yang baru
3 hari "soft launching" karena mengejar target (yang katanya) akan
diresmikan oleh Presiden SBY pada hari senin, 13 Nopember 2006 memang
sangat terasa. Hampir semua penerbangan mengalami keterlambatan, paling
tidak 1 jam. Bandara yang belum layak untuk digunakan, terasa sangat
dipaksakan untuk segera di "manfaatkan". Kebingungan seluruh petugas
dan juga kordinasi yang tidak bagus sangat terlihat nyata. Calo-calo
tiketpun bisa dengan tenang bekerja dan telihat se-olah mereka bekerja
secara legal. Yang paling nyata adalah ketika saya menanyakan tiket ke
Jakarta pada petugas loket maskapai Lion, dikatakan bahwa tiket untuk
penerbangan ke Jakarta sudah habis, padahal beberapa saat kemudian saya
ditawarkan oleh seorang calo untuk membeli tiketnya, yang masih didepan
mata saya calo tersebut kemudian membayarnya kepada petugas di loket
yang tadi mengatakan bahwa tiket Lion sudah habis. Aneh ya? bandara
baru, tapi orang-orang yang bekerjanya tetap saja mentalnya tidak
diperbaharui, sudah bisa diprediksi tahun-tahun kedepannya. Apa justeru
tidak aneh? Karena memang demikianlah negara kita.
Banyak pertanyaan yang masih belum terjawab. Jika kita bermasalah
dengan salah satu maskapai penerbangan, dimana kita bisa mengadu?
Direktorat perhubungan darat? Bandara bersangkutan atau? Lembaga
Konsumen? Atau? hanya bisa menulis di blog ini... bagi yang tidak?
Gondok aja... emang enak...
Bagi anda yang ingin merasakan kedahsyatannya bandara baru dengan Air
Asia adalah kombinasi yang sangat istimewa untuk... GO HOLIDAY!
Tak lupa kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT kami tetap diberikan kesehatan... amiiin...
:)
Sebelumnya saya mewakili Guest Service Staff yang bertugas pada saat itu ingin menyampaikan permintaan maaf kepada bapak Adhi jos akibat ketidaknyamanan ini kebetulan yang menghandle untuk menurunkan bagasi itu saya sendiri melihat kondisi di dalam tempat menaruh bagasi sgt gelap saya kesulitan utk mencari bagasi bapak, penerangan dlm ruang bagasi tdk berfungsi karena kondisi pesawat lagi diperbaiki ditambah lagi porter yg tdk ada di lapangan karena menghandle pesawat lain saya putuskan utk mencari sendiri dgn naek ke dalam ruang bagasi pesawat yg gelap meskipun dgn susah payah akhirnya dapat menemukan bagasi bapak diantara tumpukan bagasi yg lain. mudah2an pengalaman bapak menjadi pelajaran bagi kami untuk meningkatkan pelayanan penerbangan kami.....Now Everyone Can Fly.......
Menurut saya, anda sebagai Guest Service Staff yang mewakili GSA SUB STATION sangat cocok untuk menjadi manajer menggantikan posisi "bos anda yang tidak bertanggung jawab". Atau bahkan melihat respond anda yang sangat peka dan baik, malah anda cocok sebagai Mgr PRnya AirAsia.
Terima kasih sekali lagi atas Tanggapannya. Tetapi kenapa sampai hari ini CC saya belum ada transaksi mengenai refund pembelian tiket AirAsia? Jika refund-nya terlalu lama, bagaimana dengan bunga CCnya? Semoga AirAsia gak bikin penumpangnya "fly" beneran...
Mudah2an kejadian ini bisa menjadi pelajaran bersama-sama baik AirAsia, terutama bagi calon penumpang agar lebih selektif dan kritis lagi dalam memilih maskapai penerbangan.
Oleh-oleh dari Hotel Tropicana Aston, Jl Cihampelas, Bandung pada tanggal 26 April 2008.Pentingnya Penglihatan Untuk Kecerdasan Anak- Oleh Dr. Kusnandi...
Twitter of Adhi Rachdian (http://twitter.com/adhirachdian)
Twitter updates from Adhi Rachdian / adhirachdian.
"When you can't solve the problem, manage it." - Schuller. Voltaire bilang: "Tidak ada masalah yang solusinya tidak dapat dipikirkan oleh akal manusia".
Blog ini resmi diluncurkan kembali pada tanggal 9 Januari 2008. Mohon maaf jika banyak kekurangan. Website lama masih dapat diakses disini. Tahun Baru, Website Baru, Semangat Baru... Semoga bermanfaat!
@dH1 NB: Mohon kritikan dan sarannya, terima kasih.